Produk Domestik Bruto : Jenis hingga Rumus Lengkapnya

Produk Domestik Bruto – Perkembangan ekonomi negara tentu saja diukur dengan memakai sistem khusus.

Dengan menggunakan sistem yang bauk, maka data yang dihasilkan akan menjadi pijakan untuk membuat suatu kebijakan.

Nah, untuk menggambarkan keadaan ekonomi negara, alat ukur yang paling kerap digunakan adalah PDB atau Produk Domestik Bruto.

Dalam istilah berbahasa Inggris, Produk Domestik Bruto disebut dengan Gross Domestic Product (GDP).

PDB atau GDP sendiri memiliki definisi yakni jumlah produksi barang maupun jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode yang telah ditentukan (biasanya dalam waktu setahun).

Sejarah PDB

Membahas mengenai Produk Domestic Bruto tentu tidak terpisah dari sejarahnya. PDB sendiri terbentuk sebagai respon atas depresi besar yang pernah menghantam perekonomian dari Amerika Serikat.

Sesudah dilakukan beragam penelitian, lembaga riset ekonomi negara tersebut pun akhirnya menemukan metode dalam mengukur perekonomian suatu negara.

Pada saat ini, Amerika mengusulkan sebuah metode yang bernama Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP).

Akan tetapi pada tahun 1944 di konferensi Bretton Woods diputuskan metode alat ukur internasional adalah Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski Amerika Serikat mengusulkan PDB pada Bretton Woods, tetapi negara tersebut hanya menggunakannya beberapa tahun. Dan kemudian diganti menggunakan metode PDB di tahun 1991.

Manfaat Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto sebagai metode pengukuran ekonomi suatu negara yang telah diakui di dunia internasional ini memiliki berbagai manfaat. Berikut ulasannya:

1. Membandingkan Kemajuan Ekonomi Negara Satu dengan Lainnya

Semua negara mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tanpa adanya alat ukur yang valid, maka kelebihan maupun kekurangannya sulit dibuktikan secara ilmiah.

Angka yang dihasilkan dari perhitungan PDB, maka akan diketahui negara mana yang memiliki perkembangan ekonomi yang baik atau yang belum baik.

Secara bertahan, hasil perhitungan PDB dari negara-negara di seluruh dunia menunjukkan bahwa ada negara-negara dengan perekonomian paling kuat di dunia, Negara-negara tersebut tergabung dalam G7 serta G20.

2. Dapat Mengukur Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Metode Produk Domestik Bruto ini akan membuat suatu negara mengetahui sejauh mana ekonomi di dalam negeri bertumbuh.

Dengan begitu, negara bisa menganalisis data tersebut terkait faktor mana yang bisa dimaksimalkan serta faktor apa yang haris lebih ditingkatkan.

3. Landasan Pemerintah dalam Merumuskan Kebijakan

Tanpa data, maka rencana membuat kebijakan bagi suatu negara sulit untuk ditentukan efektivitasnya.

Meskipun tidak ada hal yang pasti, tetapi PDB bisa menjadi acuan untuk merumuskan kebijakan yang paling tepat.

4. Untuk Mengetahui Struktur Ekonomi Suatu Negara

PDB juga penting untuk suatu negara. Sebab, PDB akan menjadi bahan kajian mengenai sektor mana yang memengaruhi perekonomian sehingga perlu ditingkatkan atau harus ada perbaikan.

Cara Menghitung PDB

Untuk menghitung PDB, terdapat formula yang dapat diterapkan. Berikut rumus cara menghitung PDB:

PDB = C + I + G + NX

Keterangan:

PDB     : Produk Domestik Bruto

C          :Konsumsi Rumah Tangga Nasional

I           : Investasi

G          : Konsumsi Negara

NX        : Ekspor – Impor

Pada rumus di atas, C atau Konsumsi dimaksud sebagai konsumsi barang maupun jasa yang ada pada negara tersebut. Mengapa konsumsi masuk dalam perhitungan?

Sebab, konsumsi yang tinggi mengindikasikan adanya hasrat masyarakat yang tinggi dalam membelanjakan uang.

Sebaliknya, angka konsumsi yang semakin rendah, menunjukkan jika ada keadaan ekonomi yang tidak pasti sehingga membuat orang-orang menahan diri membelanjakan uangnya untuk konsumsi barang maupun jasa.

Beberapa jenis konsumsi yang terhitung dalam PDB meliputi durable goods yaitu barang awet yang tidak cepat mengalami kerusakan.

Bahkan, mempunyai umur yang panjang seperti motor, alat elektronik, mobil, dan sebagainya.

Non-durable goods adalah barang yang langsung dikonsumsi seperti minuman, makanan, pakaian, dan sebagainya. Serta service atau konsumsi terhadap jasa.

Selanjutnya, ada investasi yang dilambangkan dengan huruf I. Investasi yang dimaksud adalah investasi domestik maupun pengeluaran modal.

Di dalam dunia usaha, peningkatan bisnis memerlukan uang untuk membelanjakan beragam keperluan mesin pabrik, peralatan kantor, dan sebagainya.

Peningkatan investasi dalam bisnis memiliki dampak pada kenaikan penyerapan tenaga kerja.

Belanja Negara atau dilambangkan dengan huruf G merupakan konsumsi negara untuk mengadakan peralatan dalam rangka menunjang berbagai kegiatan pemerintahan.

Baik untuk membangun infrastruktur, membayar gaji ASN, dan sebagainya. Belanja negara masuk apda skor PDB.

Terakhir, ada NX yakni perdagangan internasional berupa ekspor dan impor. Skor NX didapatkan dari total ekspor yang dikurangi dengan besarnya nilai impor barang.

Di Indonesia sendiri, tahun 2018, angka GDP mencapai 1,042 Triliun USD. Sedangkan di tahun 2017, Indonesia mencapai 1,015 Triliun USD.

Selain rumus di atas, ada beberapa pendekatan dalam menghitung Produk Domestik Bruto, diantaranya:

1. Pendekatan Pendapatan

Rumusnya adalah sebagai berikut:

Pendapatan nasional + Depresi + (Pajak tidak langsung – Subsidi) + Pembayaran Faktor Netto Luar Negeri

2. Pendekatan Produksi

Rumusnya adalah sebagai berikut:

PDB = Sewa + Upah + Bunga + Laba

Kritik untuk Metode Pengukuran Ekonomi PDB

Tak ada metode perhitungan ekonomi yang paling sempurna. Sekalipun Produk Domestik Bruto yang sudah diakui di dunia internasional.

Meskipun telah digunakan hingga puluhan tahun, tetapi kritik tetap dilontarkan untuk metode ini.

PDB kerap diartikan menjadi indikator kesejahteraan negara. Angka PDB yang tinggi berarti angka produksi juga tinggi.

Sehingga dihubungkan dengan daya beli masyarakat yang tinggi. Sehingga, ada anggapan bahwa semakin tinggi PDB, semakin sejahtera pula negara tersebut.

Namun, apakah hal ini benar adanya?

Hal ini masih perlu dipertanyakan. Sebab, ada beberapa kritik terhadap metode Produk Domestik Bruto. Diantaranya:

1. Tidak Mengukur Aktivitas Ekonomi Lainnya

Dalam perhitungan PDB, metode ini melibatkan beberapa poin saja seperti investasi, ekspor impor, dan belanja saja.

Namun, semua yang masuk ke dalam perhitungan hanya yang tercatat. Padahal, terdapat aktivitas ekonomi yang tidak tercatat seperti para pelaku bisnis UKM, pedagang kaki lima, dan sebagainya.

Transaksi terebut tentu saja tidak tercatat oleh negara. Padahal, kenyataan di lapangan, pedagang kecil, bisnis UKM, dan sebagainya jumlahnya sangat banyak bahkan mencapai jutaan.

2. Tidak Menghitung Nilai Kesejahteraan

Menurut perhitungan PDB, semakin tinggi transaksi negara, semakin meningkat juga angka PDN yang akan diperoleh. Apakah transaksi ini memiliki dampak terhadap kesejahteraan masyarakat?

3. Terbatas Pada Satu Wilayah

Batas-batas negara saat ini menjadi kian menipis. Banyak perusahaan multinasional yang membuka cabang di negara lain.

Nah, PDB sendiri tidak memisahkan antara laba yang dihasilkan dari perusahaan akan masuk ke negara asa atau kembali ke negara Indonesia.

Sehingga, ada perbedaan yang besar saat angka PDB dibandingkan dengan PNB.

Jenis Produk Domestik Bruto

PDB terbagi atas dua jenis yakni PDB nominal serta PDB riil.

PDB nominal merupakan total dari semua nilai harga yang dihasilkan oleh barang/jasa pada jangka waktu tertentu serta dinilai berdasar pada harga yang masih berlaku pada waktu tertentu.

Sedangkan PDB riil disebut juga dengan harga tetap yang merupakan keseluruhan nilai harga yang dihasilkan oleh barang serta jasa pada kurun waktu tertentu.

Demikian pembahasan mengenai Produk Domestik Bruto. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar