Rumus Gross Margin : 3 Langkah Mudah & Singkat dalam Membuatnya

RUMUS GROSS MARGIN – Gross margin atau margin laba kotor adalah selisih dari pendapatan yang diterima oleh perusahaan dari hasil penjualan yang dikurangi dengan biaya produksi barang.

Nah, margin laba kotor ini sendiri merupakan rasio laba kotor yang dibandingkan dengan pendapatan total dalam bentuk persentase.

Dengan perhitungan rumus gross margin ini, maka Anda dapat membandingkan kinerja perusahaan dengan pesaing secara lebih cepat.

Angka yang dihasilkan dari perhitungan ini juga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi perusahaan dengan kinerja sebelumnya.

Terlebih saat Anda memasuki pasar yang memiliki fluktuasi harga barang signifikan.

Untuk dapat menghitung rumus gross margin, Anda perlu mengetahui beberapa hal terlebih dahulu.

Ulasannya dapat Anda simak di bawah ini!

Komponen dalam Penghitungan Gross Margin

Margin laba kotor atau Gross Profit Margin atau kerap juga disingkat dengan GPM dapat dihitung dengan menggunakan persentase sisa dari pendapatan sesudah dikurangi dengan biaya produksi barang.

Dalam penghitungan rumus gross margin ini, tidak diperhitungkan berbagai biaya lain dalam produksi barang.

Terlebih jika memerlukan biaya tambahan dimana besarnya dapat berubah-ubah.

Biaya lain dalam hal ini meliputi listrik, internet, transportasi, air, dan juga telepon seluler yang menunjang kegiatan bisnis.

Biaya ini tidak dihitung dikarenakan tidak termasuk pada biaya penjualan dan pembuatan produk. Melainkan mengarah pada biaya operasional kotor.

Sedangkan biaya variabel atau biaya yang berfluktuasi untuk tingkat output-nya meliputi:

  • Material
  • Tenaga kerja langsung (dapat diasumsikan perhitungan per jam atau tergantung dengan tingkat output-nya)
  • Komisi
  • Biaya kartu kredit maupun pembelian pelanggan
  • Utilitas tempat produksi
  • Peralatan

Langkah Menghitung Gross Margin

Untuk menghitung rumus gross margin, Anda harus mengurangkan pendapatan hasil dari penjualan barang oleh perusahaan dengan biaya produksi perusahaan.

Untuk lebih detailnya, simak langkah-langkahnya di bawah ini:

1. Terlebih dahulu hitung pendapatan bersih

Pendapatan bersih adalah jumlah total penjualan dikurangi dengan laba, potongan harga, serta cadangan barang rusak.

Sehingga, pengukuran pendapatan akan menjadi lebih akurat ketimbang menjumlah kan total penjualan saja.

2. Menghitung harga pokok penjualan (HPP)

Harga pokok penjualan ini mencantumkan biaya tenaga kerja, material, serta pengeluaran lainnya yang terkait dengan produksi barang maupun jasa secara langsung.

Meski begitu, biaya tenaga kerja, distribusi, dan yang tidak terkait dengan proses produksi tidak termasuk dalam HPP.

3. Mulai menghitung rumus gross margin

Setelah menghitung pendapatan bersih dan harga pokok penjualan. Maka Anda bisa mulai menghitung rumus gross margin, berikut rumusnya:

Gross Margin = Pendapatan – Harga Pokok Penjualan / Pendapatan x 100%

Meskipun fungsinya cukup besar untuk menilai efektivitas produksi, tetapi, Anda harus tahu bahwa perhitungan rumus gross margin ini bukan merupakan gambaran yang lengkap mengenai perusahaan Anda.

Sebab, angka yang dihasilkan belum termasuk beberapa hal seperti biaya tidak langsung, gaji karyawan, biaya sewa, air, dan juga listrik.

Sebaiknya Anda menghitung laba bersihnya yakni dengan mengurangkan dengan biaya operasional untuk mengetahui secara pasti mengenai total pendapatan yang dimiliki oleh perusahaan Anda.

Penghitungan rumus gross margin ini dapat dilakukan untuk produk maupun jasa.

Angka yang diperoleh bermanfaat dalam menentukan mana produk dan jasa yang paling memberikan keuntungan untuk perusahaan.

Selain itu, Anda pun bisa mengetahui produk mana yang dapat dihentikan penjualannya.

Contoh Penghitungan Gross Margin

Agar Anda lebih memahami tentang rumus gross margin, sila simak penerapannya pada contoh di bawah ini:

Pada perusahaan Dinda Clothing Inc, di tahun pertamanya, penjualan mencapai 1 juta USD dengan laba kotor sebesar 250 ribu USD. Sehingga laba kotornya adalah 250.000 USD / 1.000.000 USD yakni sebesar 25%.

Sedangkan di tahun kedua, penjualan pencapai 1,5  juta USD dengan laba kotor sebesar 450 ribu USD. Sehingga laba kotornya adalah sebesar 450.000 USD / 1.500.000 USD hasilnya 30%.

Dari contoh penerapan rumus gross margin di atas, maka Dinda Clothing menghasilkan margin laba kotor di tahun kedua yang lebih besar.

Ada banyak faktor yang menentukannya. Bisa jadi dengan menaikkan harga, menurunkan biaya material, atau menemukan cara produksi yang lebih efisien.

Contoh lainnya adalah sebagai berikut:

PT Semesta Persada mendapatkan laporan data berupa laporan laba rugi.

Datanya adalah penjualan bersih sebesar 95 juta rupiah, HPP sebesar 30 juta rupiah, biaya penjualan 20 juta rupiah, biaya administrasi sebesar 15 juta rupiah, serta pajak sebesar 5 juta rupiah.

Berdasarkan data di atas, maka besarnya laba kotor adalah 65 juta rupiah karena yang dihitung hanyalah penjualan bersih dikurangi dengan HPP.

Sedangkan biaya pajak, penjualan, dan administrasi tidak termasuk dalam perhitungannya.

Manfaat Penghitungan Gross Margin

Penghitungan gross margin atau margin laba kotor tidak masuk pada biaya yang tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang perlu dibayarkan.

Biaya tetap sendiri digunakan untuk iklan, asuransi, gaji karyawan, sewa, perlengkapan kantor, serta biaya yang tidak terlibat pada produksi.

Manfaat dari penghitungan gross margin diantaranya:

  • Dapat menilai efisiensi perusahaan untuk menggunakan tenaga kerja serta persediaannya.
  • Untuk mengevaluasi tenaga kerja dalam meningkatkan dan mengubah gaya kerjanya.

Faktor yang Memengaruhi Perhitungan Gross Margin

Dari satu periode ke periode lain, maka dapat dikatakan laba tidak konstan. Sebab, ada beberapa hal menyebabkan hal tersebut terjadi. Beberapa faktor tersebut meliputi:

Harga Jual Barang dan Jasa

Harga jual memengaruhi besarnya laba yang akan didapatkan oleh perusahaan. Harga jual yang semakin tinggi akan membuat perusahaan mendapatkan laba lebih banyak. Sehingga, tinggi rendahnya harga menjadi tidak konstan pada periode yang berbeda.

Harga Pokok Penjualan

Harga pokok dari penjualan serta jasa akan memengaruhi biaya laba yang dihasilkan. Apabila penjualan pokok berubah, tetapi harga pokok tidak berubah, maka akan memengaruhi besarnya laba.

Harga pokok dari penjualan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti upah tenaga kerja, bahan baku, serta kenaikan harga.

Jumlah serta Volume Barang yang Dijual

Faktor ini menentukan besarnya laba yang didapatkan oleh perusahaan. Semakin tinggi volume penjualan barang, maka laba yang akan didapatkan juga semakin tinggi.

Perbedaan Laba Bersih dan Laba Kotor

Laba bersih dan laba kotor saling berkaitan. Begitu pula untuk perhitungan gross margin dan net income.

Namun ada perbedaan di antara keduanya yang meliputi laba kotor menunjukkan jumlah pendapatan yang tersisa di akhir periode untuk menutup berbagai biaya operasional seperti penjualan, biaya admin, dan sebagainya.

Yang kemudian digunakan untuk formulasi rasio keuangan gross profit margin.

Sedangkan laba bersih dihitung dengan mengurangkan biaya operasi yang ada pada laba kotor.

Laba bersih ini kemudian dilaporkan pada bottom line laporan laba rugi. Nilai dari laba bersih ini yang akan dipakai untuk beragam formulasi rasio keuangan.

Sekarang, Anda telah mengetahui tentang penghitungan rumus gross margin dan hal-hal yang berhubungan dengannya secara detail.

Sehingga, Anda dapat menganalisis produk mana yang paling memberi keuntungan pada perusahaan atau yang tidak terlalu laku di pasaran.

Leave a Comment